Kamis, 19 September 2013

DARI, OLEH DAN UNTUK WARGA

| No comment

Oleh : Sobih Adnan ( Direktur Pusat Data, Riset, dan Publikasi )


Judul Buku      : Pewarta Warga


Penulis             : Yossy Suparyo dan Bambang Muryanto


Penerbit           : COMBINE Resource Institution : 2011


Tebal               : viii + 116 Halaman


Sebuah akses informasi menjadi semacam kebutuhan pokok bagi manusia. Melalui hal tersebut manusia dapat berkomunikasi, menjawab, bertanya, menilai, mengungkapkan, bergerak bahkan melakukan hal-hal yang merupakan bagian dari usaha untuk memenuhi kebutuhannya yang lain. Akses informasi tentu dapat direngkuh melalui beberapa media informasi yang biasa ditemukan, bisa berupa cetak maupun elektronik, dan belakangan hadir  pula varian baru dari penyedia informasi bagi masyarakat, yakni media jejaring internet dengan tujuan dan fungsi yang sama; penghimpun, penyedia, serta penyampai berita dan informasi.


            Namun sangat disayangkan, betapapun banyaknya ketersediaan media informasi yang hadir, sebagian besar dari mereka yang sudah dapat disebut sebagai media arus utama justru terkadang menemui beberapa kelemahan, antara lain: Pertama, misi penyampaian informasi dengan tujuan pembuka kebenaran telah terganggu oleh kepentingan perusahaan dan profit. Tak jarang dalam melakukan penyampaian berita media-media arus utama tersebut mengambil pertimbangan dasar yang bersifat untung – rugi bagi perusahaan. Parahnya penyedia-penyedia informasi tersebut juga justru dibangun dan dibentuk oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan sepihak dan intern, dalam hal ini yang paling gamblang adalah kepentingan politik dan ideologi. Sehingga tentu berita-berita yang tersampaikan sarat  dengan hasrat dan upaya ketercapaian cita-cita pribadi penyampainya. Kedua, Penyedia informasi sering kali melakukan pemberitaan dengan tidak secara total. Sebuah informasi terkadang terpengaruhi oleh trend yang sedang hadir di tengah-tengah masyarakatnya. Penyebab yang paling mudah dibaca adalah persaingan antar media. Semisal saat satu kasus atau topik informasi yang diusung oleh pesaingnya memiliki rating yang cukup tinggi, maka media-media yang lain berbondong-bondong untuk melakukan penyampaian berita dari kasus yang sama, padahal sebelumnya satu media itu tengah membahas pokok informasi yang tak kalah penting untuk disampaikan kepada masyarakat. Di tengah arus keterbukaan dan kemudahan informasi yang luar biasa inilah maka sebuah kasus, berita, ataupun informasi yang hadir itu terlalu cepat berganti dan tidak menemukan penyampaian serta kupasan yang tuntas. Ketiga, media informasi arus utama tidak secara maksimal dapat menyentuh kebutuhan-kebutuhan informasi bagi masyarakat akar rumput. Mereka cenderung tersibukkan oleh peliputan di wilayah-wilayah sentral, atau bahkan karena memang tanggung jawab jangkauan yang terlalu luas, mereka terlalu mengangkat sebuah informasi yang memiliki jangkauan lokasi yang jauh dengan masyarakat pembaca di sekitarnya.


            Sebagai jawaban dari beberapa kelemahan media arus utama di atas maka kemudian diperkenalkanlah sebuah genre pemberitaan alternative yakni Jurnalisme Warga yang dalam istilah populernya disebut Citizen Journalism. Sebuah gaya pemberitaan dengan ciri utama pengolahan secara independen dan merdeka yang dilakukan langsung oleh masyarakat, bukan oleh wartawan profesional. Melalui teknik jurnalisme warga inilah informasi-informasi lokal dapat tersajikan dan diakses minimal oleh masyarakat lingkungan sekitarnya,  di samping memang tidak sesekali melalui pemanfaatan media ini sekelompok masyarakat berhasil menunjukkan potensi kekuatannya yang besar untuk menentukan arah perubahan yang terjadi.


            Namun lagi-lagi corak pemberitaan ini juga memiliki beberapa kelemahan, yang paling sering ditemukan adalah keterbatasan penguasaan teknik penulisan berita, dari yang paling sederhana seperti salah ketik misalnya, hingga pada hal yang bersinggungan dengan kode etik kejurnalistikan yang dapat dibilang memiliki pertimbangan penting dalam penyampaian sebuah berita dan informasi. Namun paling tidak, jurnalisme warga tetap  mampu menjawab secara lebih terhadap elemen-elemen yang harus dijaga dalam wilayah kejurnalistikan, seperti kebenaran, loyalitas pada warga, pentingnya verivikasi, indepedensi, mengawasi kekuasaan dan menyambung lidah, menyediakan forum bagi publik, memikat dan relevan, proporsional dan komprehensif, serta bersumber dari hati nurani.


            Berbekal pengalamannya di dunia jurnalisme warga, Yossy Suparyo dan Bambang Muryanto mampu dengan banyak menjawab dan melakukan usaha-usaha untuk menyingkirkan keterbatasan produk-produk yang dihasilkan oleh media informasi akar-rumput, terutama dalam bidang teknis penulisan dan penyajian. Dalam buku yang mereka tulis setebal 116 halaman berjudul Pewarta Warga ini, para penulis dapat dikatakan mampu memberikan sebuah rujukan sederhana, sangat mudah dipahami, namun tetap dengan tujuan utamanya yakni sebagai bekal dan panduan bagi para pewarta warga untuk melakukan penguatan diri untuk memengaruhi kebijakan publik melalui pengolaan dan pertukaran informasi berbasis warga (Jurnalisme Warga).


            Pada bab-bab pertama buku ini dikenalkan latar belakang dan pendorong kemunculan jurnalisme warga, pada pembicaraan ini dipaparkan bahwa pada mulanya radio memiliki pengaruh besar terhadap munculnya kegiatan jurnalisme warga, kemudian dengan pesatnya inovasi penyajian informasi maka ditemukanlah media-media jurnalisme warga yang lain, seperti blog, atau situs jejaring sosial. Selanjutnya, pada pembahasan berikutnya muncullah ciri khas utama dari apa yang disebut dengan jurnalisme warga. Yakni sebuah sebuah semangat pemberitaan yang memihak warga dan lokalitas.


Keunggulan utama jurnalisme warga adalah sudut pandang pemberitaannya yang berpihak ke warga. Hal. 07


            Pada bab berikutnya dituliskan mengenai klasifikasi kelayakan sebuah berita hingga tentang teknik peliputan. Di sini dapat ditemukan sebuah rambu-rambu untuk menghindari sebuah kekhawatiran yang sering dijumpai oleh para pewarta warga, karena kedekatannya dengan objek dan sumber berita yang hendak disajikan, yakni pentingnya membedakan antara peristiwa publik dan privat.


Lawan kata dari peristiwa publik adalah peristiwa privat. Peristiwa privat tidak berhubungan dengan kepentingan publik, peristiwa privat menyangkut rahasia pribadi seseorang, perselisihan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya. Hubungan suami-istri adalah masalah privat. Namun, bila suami melakukan penyekapan, pemukulan, dan kekerasan terhadap istrinya, maka peristiwa privat itu berubah menjadi peristiwa publik. Pemukulan merupakan tindakan yang digolongkan pidana atau melawan hukum. Hal. 22


            Disebutkan juga di dalamnya bahwa sebuah peristiwa dapat memiliki nilai berita ketika secara umum mengandung unsur kedekatan, berakibat pada banyak orang, kebaruan, sisi kemanusiaan, besaran, dan pengembangan diri.


            Semua kebutuhan bekal untuk para pewarta warga kemudian dipaparkan secara bertahap di dalam buku sederhana ini, terutama dalam bab-bab pokok yang menyajikan tentang teknik wawancara, dari mulai persiapan hingga hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam menjamin hak-hak narasumber. Yang menarik adalah buku ini tetap menjaga kemudahan dan kesederhanaan bahasanya terutama saat menyentuh penyajian tentang teori-teori penulisan sebuah berita.


            Banyak hal yang disajikan secara terperinci pada halaman-halaman menjelang akhir buku ini, ketata-bahasaan menjadi pokok kupasan dari mulai teknik penulisan sampai penyuntingan. Bahkan yang menjadi nilai lebih dari pembacaan serius buku ini adalah mampu membicarakan tentang hal-hal lain yang ternyata penting dalam dunia kejurnalistikan, seperti pembahasan secara khusus mengenai foto dan kode etik keurnalistikan warga.


            Buku yang diterbitkan oleh COMBINE Resource Institution Jogjakarta ini memang masih memiliki peluang kritik dan perdebatan ketika mempertimbangkan fisik penyajiannya. Semisal penempatan gambar-gambar ilustrasi yang di sisi lain membantu memudahkan pemahaman terkadang dapat dinilai menyita halaman, sebagian pembaca mungkin akan berfikir stand tersebut akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk memuat informasi-informasi kejurnalistikan lain yang akan mampu menyempurnakan pengetahuan pembaca. Juga saat membaca hampir sebagian besar buku ini  membicarakan tentang teknik penulisan dan kebahasaan, maka dengan sederhana muncul sebuah pertanyaan; apakah hal tersebut tidak melunturkan ciri khas jurnalisme warga yang biasanya bersifat personal, independen, belum melalui verivikasi, apa adanya dan lain sebagainya?


            Akan tetapi sekali lagi, buku ini sangat penting untuk dibaca dan dipelajari, terutama oleh para pewarta warga. Dengan tujuan setiap informasi dan berita yang dihasilkan mampu menunjukkan potensi kekuatan perubahan yang berasal dari, oleh, dan untuk warga itu sendiri. []


* Penulis adalah pegiat Jaringan Radio Komunitas (JARiK) Se-wilayah III Cirebon

Tags : ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar