Kamis, 19 September 2013

JIHAD PERDAMAIAN ALA-MEDIA KOMUNITAS PESANTREN

| No comment

Oleh : Sobih Adnan ( Direktur Pusat Data, Riset dan Publikasi )


19 Januari 1998. Seorang penulis lepas asal Amerika begitu bersemangat menyiapkan laptop –komputer jinjing- dan modem –pemancar internet- miliknya hanya untuk mempublikasikan tentang sebuah kisah perselingkuhan antara Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Monica Lewinsky, kontan hanya dalam hitungan menit saja, berita tersebut mampu menyita perhatian besar, komentar, serta reaksi penduduk negeri Paman Sam, hingga merangsek ke dalam ruang pemerintahan, politik, serta dunia pemberitaan secara lebih luas. Mark Drudge namanya, seorang pelopor jurnalisme online, atau dalam istilah Indonesia lebih akrab disebut dengan era jurnalisme daring (dalam jaringan).


Terlepas dari sejarah munculnya penggunaan internet sebagai media penyebaran informasi  tersebut berawal dari sebaris informasi yang dinilai kurang baik di mata kita, yakni berita “perselingkuhan” tentang seorang tokoh politik. Namun sebuah spirit yang dapat diambil seorang Mark Drugde ini adalah kemampuan media internet untuk menunjukkan sesuatu yang berbeda dari media mainstrem lainnya; yaitu kebebasan, kemandirian, praktis, proses singkat penyebaran dan sebagainya. Maka, yang patut dijadikan sebuah pengandaian oleh seorang Muslim Indonesia adalah bagaimana jika prinsip-prinsip penyiaran komunitas tersebut diposisikan sebagai sarana strategis penyebaran dakwah nilai-nilai kemanusiaan untuk mengimbangi kecenderungan penyalah-gunaan media internet yang sering ditemukan sekarang ini; pornografi, keegoisan kelompok, penebar kebencian, alat penipuan, dan lain-lain.


Dakwah Virtual: Sebuah Alternatif Baru


Babak baru dunia informasi Indonesia sudah tergelar. Setelah sebelumnya terdapat banyak yang mencatat tentang peran-peran strategis yang telah diberikan oleh media. Baik cetak maupun elektronik; dari surat kabar, majalah, buletin, jurnal, hingga penyiaran berita-berita melalui radio dan televisi. Kini tiba masanya sebuah jalur baru pengembangan arus informasi ala-dunia maya. Website  informasi, portal-portal berita, blog, hingga jejaring sosial yang makin marak diakses masyarakat hampir secara keumuman. Tidak berhenti sampai di sana, dunia baru tersebut langsung diapresiasi luar biasa dengan diciptakannya pendukung-pendukung yang lebih praktis. Maka terciptalah Komputer jinjing (laptop), tablet PC, smartphone, dan semua alat demi meleluasakan khalayak untuk menikmati pelbagai suguhan informasi melalui teknologi baru, dunia internet.


Beranjak dari hal tersebut, artinya dunia dakwah ke-Islaman menunjukkan gairah yang tak kalah gencarnya. Banyak tercipta akun-akun yang memang dikonsentrasikan sebagai penyedia informasi, kajian, dan konsultasi keagamaan, dalam hal ini Islam. Tentu, kesan pertama yang muncul adalah suatu kabar yang sangat baik, jika di saat yang sama masyarakat sadar bahwa dunia internet sangat rawan dalam hal penyalah-gunaan. Pornografi, tekanan budaya luar yang kurang relevan terhadap tradisi lokal, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang dirasa akan membawa sebuah efek negatif bagi masyarakat dan generasinya.


Hanya saja, dalam beberapa putaran terakhir proses-proses dakwah keagamaan yang telah dinilai baik tersebut ternyata harus menemukan hal-hal yang menuntut  akan adanya suatu proses timbang-ulang masyarakat sebelum terlanjur membacanya lebih dalam. Akhir-akhir ini masyarakat diresahkan oleh menjamurnya situs-situs keagamaan yang terkesan radikal, provokatif, serta cenderung menghasut dan menyalahkan kelompok lain. Ini tentu dapat dikatakan sebagai masalah baru yang lebih serius, karena dalam kecenderungannya media tersebut memiliki misi tawaran untuk meninggalkan tradisi-tradisi lokal yang telah lama ternilai baik oleh masyarakat, lebih seriusnya, tidak sedikit juga yang mengkampanyekan kekerasan dalam ruang dakwah keagamaan.


Nahdlatul Ulama (NU): Organisasi Keagamaan Sekaligus Media Informasi Islam Ramah


Islam, Thoghut, Jihad, Syahid, Kafir, Murtad, Bid’ah, Syari’at, Khilafah, dan masih banyak lainnya, yang ternyata term-term semacam itu merupakan kata kunci –keyword-  yang biasa digunakan oleh situs-situs penyedia kajian keagamaan Islam yang kurang “ramah”. Kurang ramah di sini dalam artian konten yang terkemas di dalamnya menunjukkan wajah ke-Islaman yang kurang apresiatif dan menyambut mesra tradisi-tradisi lokal. Bersamaan dengan itu, narasi-narasi yang kerap terbaca dalam media-media sejenis adalah jauhnya sikap keramahan terhadap ruang-ruang keberagaman yang niscaya hadir dalam negeri sekaya Indonesia; baik itu ruang keragaman budaya, agama, perspektif, adat istiadat, tradisi luhur, serta budaya lokal masyarakat.


Dalam hal ini, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah Muslim terbesar di Indonesia sekaligus merupakan komunitas masyarakat Islam yang mengusung pandangan ramah, toleran, berbudaya, namun di saat bersamaan tetap kritis terhadap fenomena umat, memiliki tanggung jawab besar untuk ikut andil dalam pertarungan media virtual untuk men-dakwahkan Islam yang ramah kepada khalayak. NU tentu tidak berpendapat untuk turut menyarankan pem-bredelan atau pembatasan terhadap geliat media dalam jalur apapun kepada pemerintah, akan tetapi dirasa lebih strategis jika dilakukan dengan cara meningkatkan kreatifitas dan pengembangan media virtual dengan lebih maksimal.


Dewasa ini, masyarakat Muslim memang semakin termudahkan untuk memperoleh kajian tentang keagamaan dengan tersedianya jalur digital semacam internet. Kekurang-pahaman terhadap suatu poin keagamaan atau ibadah misalnya, tidak sedikit pribadi Muslim yang menganggap bahwa hal tersebut merupakan suatu bentuk yang tabu jika harus ditanyakan dalam forum-forum umum semacam pengajian. Akhirnya, berdasarkan pertimbangan tersebut maka internet adalah media penolong yang jauh lebih nyaman karena tidak mengganggu psikologi pribadi. Sayangnya, seperti hal di atas, media-media kajian keagamaan yang diproduksi dengan perspektif yang tidak berdasarkan ke-Islaman Indonesia yang ramah akan membawa mereka kepada kajian-kajian lain yang menuntut sikap prilaku sosial dan masyarakat, bukan sekedar pribadi saja.


NU selama ini memang telah mendukung upaya-upaya pengembangan dakwah dalam jalur jaringan internet, terbukti dengan tersedianya website dan portal informasi ke-NUan, semacam NU Online (www.nu.or.id) dan beberapa website pesantren-pesantren besar yang memiliki perspektif NU. Akan tetapi tetap harus disadari, dalam kenyataannya hal tersebut masih tidak sebanding dengan kecenderungan maraknya kemunculan situs-situs internet yang menawarkan ke-Islaman dengan wajah  yang lebih sangar.


Media Komunitas Untuk Perdamaian


Untuk menyikapi fenomena media informasi di atas, dalam keberlanjutannya lagi-lagi masyarakat Nahdliyin harus lebih serius dalam pengembangan media informasi, dalam ruang apapun. Tidak sebatas teknologi internet, dalam ruang media informasi lainnyapun masyarakat NU menghadapi tantangan yang sama. Di Cirebon misalnya, melalui jaringan komunikasi radio-radio komunitas yang digagas di desa-desa berusaha secara semaksimal mungkin untuk membentengi masyarakat akar rumput dari rongrongan syiar ala Islam keras.  Meski dengan masalah yang hampir seragam, yakni kemandirian mereka sering terbenturkan dengan keterbatasan dalam hal fasilitas-fasilitas pendukung penyiaran. Jauh dari kapasitas radio-radio dakwah di luar jaringan dan perspektif sajian seperti mereka. Begitupun, hal yang sama juga digencarkan dalam wilayah-wilayah Indonesia lainnya, masyarakat secara independen menyajikan suguhan-suguhan kajian keagamaan ke-NUan yang berbasis toleransi dalam keberagaman melalui siaran radio, buletin, majalah, bahkan di wilayah basis Jam’iyah NU di Indonesia yakni wilayah Jawa Timur, masyarakat telah lama disuguhkan dengan kehadiran siaran televisi yang berbasis ke-NUan, dan tentu, sangat membanggakan.


Sebelum berfikir tentang penggagasan media informasi dan kajian yang bersifat mainstrem dan profesional yang tentu memakan proses yang berat. Maka melalui penguatan informasi yang digawangi media-media komunitas tersebut akan menjadi gerakan yang lebih maksimal demi terwuudnya dakwah dan syiar Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian dan kemanusiaan. Penguatan media komunitas yang berperspektif ke-NUan, bukan angan-angan pembatasan adalah semangat kegembiraab  masyarakat NU terhadap hadirnya media informasi baru; era dakwah virtual.

Tags :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar