Kamis, 19 September 2013

JURNALISME PESANTREN

| No comment

Oleh : Sobih Adnan ( Direktur Pusat Data, Riset dan Publikasi )


Dunia pesantren adalah sebuah ruang yang penuh sesak dengan ilmu pengetahuan. Dalam rutinitas kesehariannya, para santri –peserta didik- senantiasa dituntut untuk menimba berbagai literatur penunjang keagamaan dari berbagai sumber dan titik analisis. Moral, tata bahasa, spiritual, hingga sejarah. Meskipun di tahun 1926, pesantren modern Gontor Ponorogo – Jawa Timur mempelopori pendidikan pesantren yang memiliki konsentrasi khusus dalam bidang ketata-bahasaan asingnya, serta dalam keberlanjutan perkembangan pondok-pondok pesantren lain yang juga memunculkan kesan kuat pada masing-masing fan keilmuan, seperti Ulumul Qur’an, Tajwid, Fiqih, tashawuf, dan varian cabang keilmuan lainnya. Akan tetapi paling tidak, kekhususan tersebut tidak sampai menyebabkan sebuah kelunturan tradisi pesantren tentang kekayaan kajian yang disajikan oleh para Kyai dan segenap jajaran pendidiknya.


Di samping kekayaan khazanah keilmuan yang dikandungnya, sistem kelembagaan pesantren juga memiliki sebuah kecenderungan yang peka terhadap tuntutan masyarakat. Dengan bukti, pesantren yang memang pada awalnya diinisiasi dengan tujuan pengajaran dan penyebaran dakwah keagamaan melalui penanaman kurikulum berbasis keagamaan -regional-based curriculum- dan bersifat ubudiyah –nilai-nilai ritual ibadah- dalam perkembangannya juga banyak menyentuh dan menyikapi persoalan-persoalan masyarakat secara kekinian –society-based curriculum­-. Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya (Mastuki HS, El-Sha, M.Isom: 2006).


Pesantren dan Media


Di beberapa pesantren, akses informasi memang tidak begitu secara gamblang diperkenalkan kepada para peserta didik. Media informasi masuk melalui pertimbangan cukup ketat untuk menghindari kekhawatiran penyalah-gunaan fungsi media dan teknologi. Surat kabar, radio, televisi, dan internet masih bersifat kebutuhan kolektif yang hanya dapat diakses melalui fasilitas-fasilitas umum. Meskipun seperti itu, pesantren merespon dengan sangat baik geliat jurnalisme media saat menyuguhkan informasi-informasi aktual yang terputar dalam setiap harinya. Wacana hangat selalu disajikan ulang melalui rutinitas-rutinitas belajar dengan senantiasa menyisipkan pesan-pesan moral, spirit, dan dorongan penalaran kritis.


Dengan alur yang tertib seperti di atas, maka pesantren memiliki pengaruh penting untuk mendampingi informasi-informasi yang tentu bertujuan baik agar tersaji dalam penerjemahan yang lebih baik. Seperti halnya saat dunia pesantren mengadopsi literatur dan kepustakaan yang hampir secara keseluruhan berupa karya-karya klasik, akan tetapi melalui proses penerjemahan panjang niscaya tetap melahirkan sebuah amanat yang memiliki  kesesuaian konteks dan kebutuhan masyarakat sekarang.


Media Perspektif Pesantren


Media informasi dan kelembagaan pesantren merupakan dua hal yang harus memiliki keterkaitan jaringan yang kuat. Melalui pesantren, segenap informasi mendapatkan pengembangan dan proses positif dalam membangun komunikasi yang ramah di masyarakat. Sebaliknya, media informasi menjadi sebuah jasa mitra yang turut mencerdas-tanggapkan masyarakat pesantren melalui berbagai issue penting yang harus disikapi.


Dalam hal ini, secara garis besar pola pengembangan dan pembelajaran yang diterapkan lembaga kepesantrenan dapat ditarik sebagai perspektif media informasi demi membangun kehidupan masyarakat yang tanggap, kritis, dan cerdas, namun tetap mengedepankan moral sebagai bentuk usaha pencapaian target positif yang dilancarkan media. Dalam kasus keagamaan misalnya, tujuan baik sebuah penyampaian informasi seputar konflik keagamaan Timur Tengah dan negara-negara lainnya, tidak diterjemahkan sebagai proses propaganda maraknya tindak kekerasan atas nama agama di tengah masyarakat. Tidak jarang, melalui informasi-informasi sensitif keagamaan yang jika disalah-artikan kemudian menjadi sebuah pemicu tindakan-tindakan yang merugikan masyarakat itu sendiri. Justru melalui dasar pandang ala-pesantren, media akan menjadi penyumbang besar dalam meredam kasus-kasus keagamaan di Indonesia.


Berikutnya, pesantren juga harus mulai berani menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme dalam menjemput berbagai informasi yang sedang terjadi dan menyajikannya kembali dalam bentuk produk yang sarat pesan moral. Melalui hal ini, pesantren tak akan lagi dipandang sebagai sebuah lembaga eksklusif yang sangat menutup diri, dan tentu akan mengundang kecurigaan. Di bawah organisasi kemasyarakatan yang cenderung terbuka dan moderat semisal Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al-Washliyah, Hidayatullah, dan lainnya, mungkin pondok-pondok pesantren yang bernaung di dalamnya untuk hal ini tidak menjadi sebuah masalah, bahkan sudah menjadi kerangka kerja dalam misi-misinya menciptakan kehidupan negara dan berbangsa yang damai dalam keberagaman. Akan tetapi, tidak dipungkiri, sikap ketertutupan terutama dalam hal media informasi masih menjadi ruh yang kuat di sebagian kecil pesantren di Indonesia.


Proses keterbukaan dan respon pesantren terhadap media informasi yang mengedepankan pesan moral dan kedamaian inilah yang secara singkat disebut sebagai jurnalisme pesantren. Yang secara optimis bersama media informasi mainstrem dibidangnya akan mampu membangun kehidupan masyarakat yang tanggap, cerdas, terbuka, bermoral, dan yang terpenting adalah selalu mengutamakan sisi kemanusiaan dan kedamaian dalam bertindak.

Tags : ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar