Kamis, 19 September 2013

PERJUANGAN DUA SANGGAR TOPENG CIREBON

| No comment

Oleh : Sobih Adnan ( Direktur Pusat Data, Riset, dan Publikasi )


”Saya berharap pemerintah dapat mendukung kegiatan dan pegelaran tari topeng, memberikan perhatian lebih, bukan hannya omongnya doang”. [Novia Puji Astuti, Penari]


Mengitari kota Udang –Cirebon- tak lengkap jika tidak menikmati berbagai sajian yang terpendam di dalamnya, Sega Jamblang, Batik Trusmi, suasana Keraton Kasepuhan, dan tentunya,  pementasan Tari Topeng yang menjadi salah satu aset kebanggaan dalam warisan seni tradisi Kacirebonan.


Namun bagaimana ketika diketahui dalam keindahan seni tari topeng Cirebon terdapat catatan-catatan menarik dalam hal pelestarian dan pengembangannya, terutama tentang sanggar, sarana utama yang menjadi tempat keluh kesah serta aktifitas para pegiat seni (Baca: Penari) tari topeng untuk mewujudkan segenap rasa kecintaannya terhadap budaya,  Ternyata Tidak selamanya indah, tidak selamanya mudah.


Ruh Keindahan Dalam Sebuah Sanggar Sederhana


Terdapat sebuah sanggar seni tari topeng di desa Tegal Wangi yang ternyata hanya sebuah bangunan bekas gudang pembuatan furniture yang telah lapuk karena termakan usia. Sanggar dengan penuh keterbatasan ini diberi nama dengan Sanggar Seni Tari Topeng Tri Tunggal Budaya. Dirintis oleh seorang penari topeng bernama Rudi (27), sekitar tahun 2007.


Berawal dari kegelisahan seorang Rudi yang ingin mengembangkan keahliannya dalam bidang seni tari topeng Cirebon, dia melakukan beberapa usaha dan menuangkan ide kepada kawan-kawannya untuk mewujudkan sebuah sanggar sebagai tempat berkumpul, berlatih, dan melestarikan warisan budaya daerah tersebut. Karena tertabrak masalah anggaran pendanaan, sebelum tahun 2007, seperti halnya Rudi, dua pegiat seni tari topeng, yakni Nana dan Saeful Anam, mereka melaksanakan latihan secara berpindah-pindah, mulai dari keraton Kanoman, Kacirebonan, Sampai sanggar serupa dengan nama Puser Langit yang terletak di daerah Bima-Cirebon, baru pada sekitaran tahun 2007, Rudi dan kawan-kawan terpaksa hanya dapat memanfaatkan gudang tua di depan rumahnya untuk dijadikan sebagai sanggar.


Sanggar baru Rudi dan para pecinta seni itupun hanya berupa sebuah bangunan dengan atap asbes yang di beberapa bagiannya berlubang, dan dilengkapi pilar-pilar kayu yang menghitam, karena telah begitu lama menyangga konstruk bangunan tersebut, namun kesemangatan Rudi dan kawan-kawan penari topeng tidak surut karena keterbatasan yang dimilikinya. Walau masalah sanggarpun ternyata bukan akhir dari pengorbanan mereka, dalam sanggar dibutuhkan pengadaan alat-alat gamelan pendukung latihan yang kemudian bisa mereka wujudkan dengan cara iuran dan sumbangan anggota.
Kelengkapan dan kebutuhan pementasan tari topeng dipenuhi secara bertahap oleh Rudi dan kawan-kawannya. Pada awal dialih-fungsikannya gudang milik Rudi sebagai sanggar mereka langsung dihadapkan pada masalah pentingnya pengadaan gamelan, yang ternyata nominal harganya cukup memberatkan mereka, sampai senilai Rp. 25 Juta, namun kebulatan tekad mereka menimbulkan inisiatif untuk saling menyisihkan sebagian rizkinya dari pekerjaan utama mereka sebagai pekerja serabutan untuk kemudian disumbangkan ke sanggar dan menggenapi dana untuk pembelian gamelan tari topeng. Selain itu sistem patungan anggota juga diterapkan untuk memenuhi kebutuhan penopang lain seperti kostum pementasan, Sobra –penutup kepala-, dan topeng, yang harganya memang tidak murah.  Hingga kinipun, para “Pahlawan” seni Cirebon ini dengan segenap usahanya terus menghidupkan serta melestarikan aktivitas sanggar, mereka mengorbankan sisa-sisa waktu istirahatnya untuk berlatih dan mengembangkan seni tari topeng Cirebon.


Dari sebuah gudang tua, mengalun denting-denting merdu perangkat gamelan yang ditabu saat latihan. Mereka berlatih hampir setiap hari dalam seminggu, selain itu diagendakan juga jadwal sanggar untuk memfasilitasi sanggar-sanggar lain yang belum memiliki fasilitas gamelan sebagai pembantu dalam pementasan tari topeng. Setelah siang hari mereka gunakan untuk bekerja serabutan, malampun kadang selalu mereka habiskan di sanggar ini, untuk merumuskan pengembangan sanggar atau sekedar mengatur jadwal undangan dan pementasan.


Sanggar Tri Tunggal Budaya Cirebon ini hadir di tengah-tengah masyarakat Tegal Wangi ternyata tidak hanya sebagai pejuang pelestarian budaya semata, terbukti semenjak berdirinya sanggar tersebut kemanfaatannya telah dirasakan oleh lebih dari 15 orang tetangga karena mendapatkan tambahan dari pekerjaan pokoknya sebagai pekerja serabutan. Namun, yang sangat disayangkan adalah ketidak-pedulian pihak pemerintah untuk semakin mewujudkan cita-cita mulia mereka, atau setidaknya berupa dukungan agar perjuangan pelestarian budaya Cirebon tersebut semakin melenggang dengan tanpa beban.


Sanggar ”Belia” Cirebon


Tidak jauh berbeda seperti apa yang dialami oleh Rudi dan kawan-kawan pegiat seni lainnya di Tegal Wangi, Novi Puji Astuti (18) berhasil menyalurkan bakat dan minatnya melalui sanggar yang ia bentuk dengan nama Sanggar Seni Tari Topeng Nyi Mas Sekar Puji Asmara. Sebuah sanggar di Kelurahan Lemahwungkuk Kota Cirebon ini hanya dapat memanfaatkan gedung Baperkam (Badan Pertemuan Kampung) di desanya. Sanggar ini terbentuk atas inisiasi Novi dan ibunya pada bulan September 2009, mereka berdua memandang perlu terciptanya sebuah wadah pengapresiasian, pengembangan, dan pelestarian seni tari topeng Cirebon, selain untuk mengembangkan keahlian Novi sendiri dalam tradisi Cerbonan ini.


Novi dan ibunya mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat untuk menyalurkan bakat Novi dalam bidang seni tari topeng, lagi-lagi masalah keterbatasan dana dan kurangnya kepedulian dari pihak-pihak yang dibutuhkan sumbangsihnya, kemudian pada tahun 2009 pemerintah RW setempat mengeluarkan izin penggunaan gedung Baperkam tersebut sebagai pusat aktivitas sanggar Nyi Mas Sekar Puji Asmara yang dipimpin oleh sorang Novi, penari topeng yang masih belia namun memiliki keahlian yang sangat luar biasa.


Novi terus memanfaatkan kesempatan emas untuk mengembangkan sanggarnya tersebut. Dia membuka pelatihan bagi masyarakat yang berminat, mengadakan latihan gabungan, serta memimpin pementasan dalam setiap undangan yang diterima sanggarnya. Karena terdapat masalah pemilikan gedung, sanggar Novi ini hanya diperkenankan menggelar rutinitasnya setiap dua hari dalam seminggu. Kebeliaan Novi sedikit tertutupi ketika dengan telaten membimbing kedua-puluh murid-muridnya dalam setiap latihan.


Masalah sanggar bukan masalah tunggal yang dialami oleh Novi untuk menguji rasa kecintannya terhadap tari topeng. Dia bersama murid-muridnya harus keluar beberapa kilo meter dari sanggarnya untuk menggelar di sanggar lain yang sudah memiliki perangkat gamelan yang lebih lengkap, ”Untuk latihan gamelan hidup, tiap satu bulan sekali saya ajak murid-murid ke sanggarnya kang Rudi di Tegal Wangi” tutur Novi. Dia belum dapat memenuhi kelengkapan gamelan karena harganya yang memang lumayan mahal. ”Karena baru, saya belum sanggup membeli gamelan, sanggar masih menggunakan tape recorder kalau latihan”. Jelas Novi. Selain itu untuk memenuhi fasilitas lain seperti kostum penari, Sobra, dan Topeng, Novi mensiasatinya melalui tabungannya ataupun melalui sumbangan suka rela murid-muridnya.


Berawal dari pandangan Novi tentang pentingnya pengembangan potensi budaya yang dimiliki masyarakat sekitarnya, akhirnya masyarakatpun merespon baik kegiatan dan aktivitas sanggar yang dipimpinnya, dengan bukti dikeluarkannya surat izin pemakaian gedung Baperkam oleh RW setempat untuk digunakan sebagai tempat latihan tari topeng. Namun yang sangat disayangkan belum nampaknya perhatian pemerintah dalam pelestarian budaya lokal seperti terhadap apa yang telah dilakukan Novi dan sanggarnya.


Rudi, Novi, dan pegiat seni tari topeng Cirebon lainnya sangat mengharapkan kepedulian dan perhatian dari berbagai kelompok masyarakat agar segenap usahanya untuk melestarikan tradisi kota Cirebon ini semakin tergelar dan tercapai. Terlebih terhadap pemerintah, sebagai penanggung jawab utama terlestarikannya kebudayaan daerahnya masing-masing, dalam hal ini adalah pemerintah daerah Cirebon, ”Saya berharap pemerintah dapat mendukung kegiatan dan pegelaran tari topeng, memberikan perhatian lebih, bukan hannya omongnya doang”. Tutup Novi

Tags : ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar