Kamis, 19 September 2013

Radio Komunitas dan Efektifitas Perannya di Masyarakat

| No comment

Oleh : Ahmad Rovahan ( Direktur Program )


Seperti yang kita ketahui bersama, banyaknya media yang tumbuh sekarang ini merupakan salah satu bukti pentingnya informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, informasi tingkat lokal malah sulit didapatkan. Disinilah sebenarnya salah satu peran dari radio komunitas yang dikelola oleh masyarakat / komunitasnya sendiri, yaitu berfungsi sebagai salah satu pemenuh informasi bagi masyarakat lokal.


 Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah. Keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.


Perbedaan Radio Komunitas dengan Radio Swasta


Ada beberapa perbedaan antara radio komunitas dengan radio swasta diantaranya yaitu, pengelolaan radio Komunitas berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan bersama warga sedangkan pengelolaan radio swasta berdasarkan hasil rating oleh surveyor dan juga selera/kreativitas pengelola. Untuk mendirikan sebuah radio komunitas, harus dilakukan beberapa tahap yang kesemuanya melibatkan masyarakat, karena pendirian radio komunitas harus ada persetujuan dan kesepakatan dari warga, tidak diperbolehkan muncul dari keinginan pribadi.


Berdirinya radio komunitas atas inisiatif dan swadaya masyarakat, menjadikan radio komunitas milik semua masyarakat. Sehingga dalam struktur kepengurusanpun tidak tercantum nama pemilik, melainkan hanya ketua dan beberapa pengurus lainnya. Berbeda halnya dengan radio swasta, dimana seorang pemilik memiliki wewenang yang cukup besar dalam mengatur program maupun kegiatan yang dilaksanakan oleh radio.


Melalui proses ini juga, radio komunitas memiliki nilai tersendiri di masyarakat. Keterlibatan masyarakat dari awal pendirian radio komunitas, akan menjadikan tanggung jawab besar dan rasa memiliki yang cukup kuat dirasakan oleh masyarakat untuk ikut bergerak dalam mengembangkan radio komunitas yang telah ada.


Kisah menarik banyak terekam dalam proses pendirian Rakom di beberapa wilayah di Indonesia. Demi bisa memiliki radio komunitas di Desanya. Masyarakat Desa Klayan Kabupaten Cirebon bergotong royong mulai dari pendanaan, pembuatan studio sederhana dari bilik bambu, sampai proses pendirian antena radio yang diikuti oleh puluhan masyarakat. Semua perlengkapan, dana, konsumsi dan fasilitas lainnya juga disediakan dari hasil swadaya komunitas.


Kekuatan radio komunitas bukan hanya sampai proses pendirian, namun dalam proses keberlangsungan radio komunitas juga, masyarakat masih berperan cukup banyak. Salah satunya dari sukarelawan penyiar yang tidak dibayar. Hal tersebut terjadi hampir diseluruh radio komunitas yang ada. Bahkan tidak jarang pula para pegiat radio komunitas mengeluarkan dana pribadi untuk menjaga keberlangsungan Rakom.


Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk menunjukkan kepedulian kepada radio Komunitas di wilayahnya. Seperti yang terjadi pada Rakom Bilik FM Indramayu, salah satu masyarakat menyumbang dana untuk keberlangsungan Bilik FM dengan menyisakan sisa hasil laba penjualan gas elpiji yang dilakukannya. Dari setiap laba yang didapatkan sekitar Rp.1500/tabung, masyarakat kiajaran kulon tersebut menyisakan Rp.100,- untuk operasional Bilik FM.


Kepedulian warga, merupakan kekuatan yang dimiliki oleh Radio Komunitas untuk bisa mendapatkan perhatian lebih dibanding dengan Radio atau media lainnya. Faktor kedekatan emosional wilayah, penyiar dan keterlibatan dalam proses pendirian, sangat jarang dirasakan oleh masyarakat pada media lainnya, apalagi radio komunitas juga berperan dalam menyuarakan suara rakyat.


Dalam kiprahnya, Radio komunitas mengutamakan kepentingan dan kebutuhan warga di wilayah tempat radio tersebut, berbeda dengan radio swasta yang diarahkan kepada segmen pasar yang disasar. Dalam siarannya radio komunitas menyajikan tema-tema yang dibutuhkan warga setempat sedangkan radio swasta mengikuti keinginan dan selera pasar. Bahasa penyiar dalam radio komunitas mengikuti dialek lokal dan kebiasaan berbicara setempat atau bahasa Indonesia yang benar. sedangkan radio swasta cenderung mengikuti gaya bicara orang kota (Jakarta).


Pegiat Radio Komunitas


Tidak ada syarat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk bisa menjadi pegiat radio komunitas. Tingkat pendidikan, kelas sosial, gender maupun lainnya, bukan tolak ukur bagi masyarakat yang akan menjadi pegiat radio komunitas.


Radio komunitas saat ini dikelola oleh lintas generasi, baik berstatus pelajar, pedagang, pengangguran dan lainnya. Kebebasan ini memang tidak sepenuhnya diterapkan dalam memilih atau memberikan izin setiap masyarakat bisa mengakses radio komunitas. Ada aturan tertentu yang kaitannya dengan etika dan adat wilayah yang dijunjung oleh radio komunitas sesuai dengan wilayah radio itu berdiri. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi hasil negatif dari proses siaran yang dilakukan oleh sembarang orang. Ketika masyarakat tersebut mampu, dan bisa memberikan isi siaran yang baik, maka dalam posisi status apapun dia, dia berhak untuk menjadi penyiar/pegiat radio komunitas.


Pengalaman menarik yang pernah saya jumpai ketika melakukan pelatihan di radio komunitas AJ FM Arjawinangun cirebon. Saat itu materi yang disampaikan adalah pelatihan jurnalistik warga. Salah satu crew AJ FM yang bernama Surdi tiba-tiba meminta izin kepada saya, tidak bisa melanjutkan mengikuti pelatihan dalam sementara waktu setelah dia menerima sms dari seseorang. Ternyata, Surdi adalah seorang tukang becak, yang selalu aktif bersiaran di AJ FM. Sms tadi merupakan sms dari pelanggannya yang minta dijemput untuk diantarkan pulang. Ketika bercerita dengan saya, dia merasa sangat terhormat bisa diterima oleh Crew AJ FM untuk bisa ikut bersiaran di radio milik masyarakat arjawinangun tersebut. Walaupun, sering juga dia meninggalkan jam siarannya untuk sekedar menarik becak untuk mengantarkan pelanggannya. Saat ini, sangat jarang media yang bisa melakukan hal seperti itu kecuali di Radio Komunitas.


Radio Komunitas sebagai Media Perubahan


Radio Komunitas memang sangat tepat untuk dijadikan sebagai media perubahan, baik itu dilakukan melalui informasi (On Air) maupun gerakan yang dilakukan oleh pegiatnya diluar siaran (off air). Ketika radio komunitas sudah merasa dimiliki oleh masyarakat, radio komunitas akan menjadi sebuah bagian tak terpisahkan dalam struktur kehidupan komunitas di wilayahnya.


Pandangan orang akan ketertinggalannya para pegiat radio komunitas terhadap media dan informasi harus dibuang jauh-jauh. Saat ini para pegiat radio komunitas sudah memiliki banyak pengetahuan tentang metode maupun cara untuk bisa menyampaikan informasi dengan baik. Bahkan tidak sedikit juga radio komunitas yang  digunakan sebagai mediator dalam penanganan permasalahan yang ada di wilayahnya. Radio komunitas mengumpulkan masyarakat dan beberapa instansi yang terkait akan permasalahan yang dilaporkan oleh masyarakat ,untuk bisa duduk bersama dalam mencarikan solusi yang tepat.


Untuk meningkatkan kapasitas pegiat radio komunitas dalam berperan di masyarakat, pegiat radio komunitas juga dilatih menguasai ilmu jurnalistik oleh jaringan yang menaunginya. Pelatihan itu cukup penting, mengingat  saat ini media yang digunakan oleh para pegiat radio komunitas bukan hanya bertumpu pada radio saja, melainkan banyak juga yang memanfaatkan media bulletin dan website untuk lebih memperkuat sebaran informasi yang disampaikan, sehingga istilah radio komunitas merupakan media yang tertinggal tidak bisa diterima begitu saja.


Beberapa radio komunitas sudah membuktikan, bahwa keberadaannya memang memberikan nilai lebih dibanding media lainnya. Contohnya adalah Radio Komunitas yang tergabung dalam Jaringan radio Komunitas (JARIK) Se-Wilayah III Cirebon misalnya, tidak jarang masyarakat di wilayah tersebut lebih nyaman mengadukan beberapa kasus melalui radio komunitas dibanding melalui lembaga yang berwenang. Beberapa kasus yang menimpa masyarakat seperti Kasus perkosaan, Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), Traficking, Kekerasan dalam pacaran (KDP), permasalahan pendidikan dan lainnya sering diterima oleh pengurus radio komunitas.


Salah satu hasil terbaru dari perjuangan rakom di Cirebon dalam menangani permasalahan yang dilaporkan oleh masyarakat, yaitu memulangkan Ibu Enok Sutarsih TKW Asal Sumedang Jawa Barat yang disiksa oleh majikannya di Arab Saudi pada akhir tahun 2011 kemarin. Radio komunitas melakukan kerjasama cukup baik dengan berbagai pihak, untuk bisa mendampingi permasalahan warga yang menghasilkan capaian memuaskan.


Melapornya warga melalui rakom, merupakan salah satu bentuk kepercayaan yang sudah terbangun pada radio komunitas. Walaupun sejatinya, advokasi secara mendalam memang bukan wewenang dari lembaga seperti radio komunitas. Namun, kepercayaan yang telah diberikan oleh warga menjadi sebuah semangat untuk bisa memberikan yang terbaik.


Keberanian warga melaporkan kasus, itu juga merupakan salah satu dari hasil adanya radio komunitas yang selalu memberikan informasi tentang hak dan kewajiban yang dimiliki oleh setiap warga negara. Membangun Kesadaran kritis tentang hak dan kewajiban, memang sangat sulit dibangun dalam sebuah komunitas yang sudah terlalu lama mengabaikannya. Namun karena kespesialan radio komunitas dimata masyarakat, membuat informasi-informasi tersebut lebih mudah diterima.

Tags : ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar