Kamis, 19 September 2013

Sanggar ”Belia” Cirebon

| No comment

Oleh : Sobih Adnan ( Direktur Pusat Data, Riset, dan Publikasi )


Ketika masuk ke pemukiman warga di Cangkol Tengah kota cirebon, tidak terbayang sedikitpun dalam fikiran akan menemukan sebuah sanggar seni tari topeng. Apalagi ternyata pemiliknya adalah seorang gadis belia. Cangkol Tengah berada di utara kota Cirebon yang lokasinya sekitar 1 Km dari keraton kasepuhan , pemukiman tersebut juga berada di kampung nelayan karena dengan hanya berjalan sekitar 100 m kita sudah menemukan pantai utara Cirebon.


Hanya ada satu akses jalan utama untuk memasuki perkampungan tersebut yang bisa dilalui mobil, sedangkan jalan yang lainnya hanya bisa digunakan oleh pengendara sepeda motor, itupun harus dengan kecepatan yang sangat rendah karena pemukiman lokasinya merupakan salah satu pemukiman padat di Cirebon.


Kondisi itu ternyata tidak melunturkan semangat Novia Puji Astuti (18) untuk terus mengembangkan tari topeng di wilayahnya. Untuk bisa menuju kediaman novi, saya harus melalui beberapa jalan yang cukup sempit yang membelah antar rumah di pemukiman padat  Cangkol Tengah kota Cirebon. Bahkan, saya tidak bisa memarkirkan motor tepat didepan rumahnya, karena untuk menuju kediaman Novi, kendaraan bermotor cukup sulit untuk masuk karena sempitnya jalan yang harus dilalui.


Kediaman Novi terlihat begitu minimalis, mungkin ini juga karena faktor padatnya pemukiman yang sudah ada di Cangkol Tengah. Namun yang membuat menarik, ruang tamu yang berukuran sekitar 3x4 meter itu hampir semuanya dihiasi dengan ornamen yang berkaitan dengan Tari Topeng. Disudut ruang tamu, terdapat meja yang bentuknya hampir tertutup oleh puluhan piala dan piagam penghargaan yang telah diterima oleh Novi.


Tidak aneh jika Piala dan penghargaan yang diterima oleh Novi sudah berjumlah puluhan, ini dikarenakan kecintaan Novi terhadap tari topeng sudah ada sejak kecil. Piala pertama yang diraihnya ketika dia bisa menjadi salah satu pemenang perlombaan tari topeng saat masih kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Saat ini, bukan hanya berusaha untuk menguasai tari topeng, tapi dia juga berusaha untuk mengembangkan tari topeng dengan mendirikan sebuah sanggar tari.


Novi berhasil menyalurkan bakat dan minatnya melalui sanggar yang ia bentuk dengan nama Sanggar Seni Tari Topeng Nyi Mas Sekar Puji Asmara. Sebuah sanggar di Kelurahan Lemahwungkuk Kota Cirebon ini hanya dapat memanfaatkan gedung Baperkam (Badan Pertemuan Kampung) di desanya. Sanggar ini terbentuk atas inisiasi Novi dan ibunya pada bulan September 2009, mereka berdua memandang perlu terciptanya sebuah wadah pengapresiasian, pengembangan, dan pelestarian seni tari topeng Cirebon, selain untuk mengembangkan keahlian Novi sendiri dalam tradisi Cerbonan ini.


Novi dan ibunya mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat untuk menyalurkan bakat Novi dalam bidang seni tari topeng, lagi-lagi masalah keterbatasan dana dan kurangnya kepedulian dari pihak-pihak yang dibutuhkan sumbangsihnya, kemudian pada tahun 2009 pemerintah RW setempat mengeluarkan izin penggunaan gedung Baperkam tersebut sebagai pusat aktivitas sanggar Nyi Mas Sekar Puji Asmara yang dipimpin oleh sorang Novi, penari topeng yang masih belia namun memiliki keahlian yang sangat luar biasa.


Novi terus memanfaatkan kesempatan emas untuk mengembangkan sanggarnya tersebut. Dia membuka pelatihan bagi masyarakat yang berminat, mengadakan latihan gabungan, serta memimpin pementasan dalam setiap undangan yang diterima sanggarnya. Karena terdapat masalah pemilikan gedung, sanggar Novi ini hanya diperkenankan menggelar rutinitasnya setiap dua hari dalam seminggu. Kebeliaan Novi sedikit tertutupi ketika dengan telaten membimbing kedua-puluh murid-muridnya dalam setiap latihan.


Masalah sanggar bukan masalah tunggal yang dialami oleh Novi untuk menguji rasa kecintannya terhadap tari topeng. Dia bersama murid-muridnya harus keluar beberapa kilo meter dari sanggarnya untuk menggelar di sanggar lain yang sudah memiliki perangkat gamelan yang lebih lengkap, ”Untuk latihan gamelan hidup, tiap satu bulan sekali saya ajak murid-murid ke sanggarnya kang Rudi di Tegal Wangi” tutur Novi. Dia belum dapat memenuhi kelengkapan gamelan karena harganya yang memang lumayan mahal. ”Karena baru, saya belum sanggup membeli gamelan, sanggar masih menggunakan tape recorder kalau latihan”. Jelas Novi. Selain itu untuk memenuhi fasilitas lain seperti kostum penari, Sobra, dan Topeng, Novi mensiasatinya melalui tabungannya ataupun melalui sumbangan suka rela murid-muridnya.


Pementasan tari topeng yang dilakukan oleh Novi, bukan hanya dilaksanakan di wilayah Cirebon saja. Namun puluhan undangan juga pernah dia terima untuk mementaskan kesenian khas cirebon itu di berbagai daerah di luar Jawa Barat.  Sudah sekitar 12 tarian yang dikuasai oleh Novi, bahkan saat ini dia sudah bisa menciptakan satu tarian dengan judul Rahwana Gandrung. Tarian yang menceritakan tentang seseorang yang sedang jatuh cinta itu, sering juga dipentaskan bebarengan dengan pementasan tari topeng.


Berawal dari pandangan Novi tentang pentingnya pengembangan potensi budaya yang dimiliki masyarakat sekitarnya, akhirnya masyarakatpun merespon baik kegiatan dan aktivitas sanggar yang dipimpinnya, dengan bukti dikeluarkannya surat izin pemakaian gedung Baperkam oleh RW setempat untuk digunakan sebagai tempat latihan tari topeng. Namun yang sangat disayangkan belum nampaknya perhatian pemerintah dalam pelestarian budaya lokal seperti terhadap apa yang telah dilakukan Novi dan sanggarnya.


Rudi, Novi, dan pegiat seni tari topeng Cirebon lainnya sangat mengharapkan kepedulian dan perhatian dari berbagai kelompok masyarakat agar segenap usahanya untuk melestarikan tradisi kota Cirebon ini semakin tergelar dan tercapai. Terlebih terhadap pemerintah, sebagai penanggung jawab utama terlestarikannya kebudayaan daerahnya masing-masing, dalam hal ini adalah pemerintah daerah Cirebon, ”Saya berharap pemerintah dapat mendukung kegiatan dan pegelaran tari topeng, memberikan perhatian lebih, bukan hannya omongnya doang”. Tutup Novi

Tags : ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar