Senin, 30 Juni 2014

KONFERENSI PERS PELAJAR INDONESIA

| No comment

“WAHAI BAPAK CAPRES, COBALAH PANDANG PENDIDIKAN DARI KACA MATA KAMI”


Persis hingga malam tadi, tanggal 29 Juni 2014, pada acara debat calon wakil presiden yang ditayangkan hampir di seluruh saluran televisi di rumah kami, belum juga ada pernyataan-pernyataan dari bapak-bapak sekalian, tentang harapan-harapan yang pas dan sesuai dengan apa yang terkunci rapat dalam benak kami selama ini, para pelajar Indonesia.


            Kami mendengar, terkait soal pendidikan, Bapak Hatta Rajasa, Calon Wakil Presiden dari Bapak Prabowo Subianto nomor urut 1 memberikan harapan bahwa biaya pendidikan akan digratiskan hingga ke perguruan tinggi. Sedangkan Bapak Jusuf Kalla, Calon Wakil Presiden dari Bapak Joko Widodo nomor urut 2, justru sibuk menangkal kabar bahwa pihaknya akan menghapus program sertifikasi guru. Bukan, bukan itu yang kami ingin dengar wahai bapak-bapak calon pemimpin bangsa, keduanya memang penting, namun ada banyak hal lain yang menurut daya pandang dan kaca mata kami, jauh lebih penting.


            Bapak capres yang kami hormati. Kini, biarlah kami barang beberapa menit saja, untuk sedikit memaksa bapak agar berkenan mendengarkan apa yang kami inginkan, serta apa yang kami tafsirkan sebagai kendala pendidikan kita selama ini.


            Bapak-bapak capres yang kami hormati, sekali lagi kami sampaikan, ada banyak hal yang lebih mendasar dibandingkan dengan soal pendidikan gratis atau sertifikasi guru. Di antaranya adalah:




  1. Kesetaraan pendidikan. Kami menemukan sistem pendidikan berkasta tampak nyata di negara kita tercinta. Yang kaya harus sekolah di lembaga A, yang miskin papa harus terima sekolah di lembaga B, tidak boleh sebaliknya. Begitu juga, lembaga sekolah kerap kali menerbitkan kebijakan tes sebagai syarat siswa diterima, ini konyol memang, sekolah hanya diperuntukkan bagi siswa yang di mata mereka pintar, bukan dengan niat sepenuh hati untuk mencerdaskan peserta didiknya. Kami butuh pendidikan yang setara, tanpa membeda-bedakan status apapun, kami berdiri di atas hak yang sama, hak sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.

  2. Akses dan fasilitas pendidikan merata. Beberapa sahabat pelajar dari Papua misalnya, melalui surat yang mereka tulis secara jujur, polos dan apa adanya,  menceritakan betapa pincangnya pemenuhan fasilitas antara di pusat negara dan kota-kota besar dibanding tempat di mana mereka menimba ilmu pengetahuan. Ini adalah PR besar setelah bapak-bapak terpilih menjadi pemimpin bangsa ke depan. Otonomi daerah jangan sampai dijadikan tameng untuk menutupi masa depan kami, karena disulap menjadi kilah bahwa pembangunan sudah diserahkan kepada masing-masing pemerintahan daerah, termasuk hal-ihwal pendidikan.

  3. Hapus Ujian Nasional (UN). UN adalah mata pelajaran ilegal tentang ketidak-adilan. Betapa tidak, fakta-fakta menunjukkan bahwa UN kerap berseberangan dengan kemampuan siswa yang sebenarnya. UN tidak bisa diberlakukan sebagai kontrol mutu pendidikan, karena  di setiap lembaga pendidikan daerah lebih mengetahui komposisi pengetahuan seperti apa yang dibutuhkan oleh para siswanya. UN bukan membentuk mental yang baik bagi masa depan, namun lebih merujuk pada praktik ketidak-jujuran, cikal bakal prilaku korupsi yang konon harus diberantas di negeri ini. Yang terpenting adalah, UN harus dihapuskan dari sistem pendidikan kita, karena bukan malah memacu prestasi pelajar, melainkan lebih sering mewujud sebagai hantu menyeramkan di akhir tahun pelajaran.


Akhirnya, kami titipkan suara ini kepada bapak-bapak calon presiden dan calon wakil presiden yang baik hati. Kami sangat berharap bahwa kelak, di bawah kepemimpinan bapak, negara ini benar-benar menjadi negara yang peduli terhadap nasib pelajar secara keseluruhan, bukan hanya berkaitan dengan pergantian nama kementrian, maupun program kebijakan.


Cirebon, 30 Juni 2014


Atas nama Pelajar Indonesia,


Dea Sheila Hilalia


Dibacakan di sekretariat JINGGA Media tanggal 30 Juni 2014

Tags :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar